Diposkan pada blog

Mendingan Nggak Usah Punya Anak, Deh

Saya dibuat terbengong-bengong dalam sebuah acara kumpul keluarga.

Ini semua karena saya menyaksikan sendiri bagaimana seorang ibu ‘cuek’ dengan anak-anaknya. Sebut saja nama perempuan itu Parjini (bukan nama sebenarnya). Pada saat saya sampai di acara tersebut, saya bertegur sapa riang dengan Parjini. Maklumlah udah lama nggak ketemu, yekan.

Setelah menyapa dan berkeliling salam sana-sini, Parjini menghilang. Tapi saya masih melihat kedua anaknya asyik bermain. Apakah Parjini punya bakat menghilang ala Jini Oh Jini? Entahlah…
Tapi kemudian diketahuilah kalau Parjini sedang tidur. Hoo… Dia mungkin lelah. Yo wis…

Sampailah jam makan siang. Saya bersantap dengan hidangan yang ada sambil terus mengawasi Kriby yang terlalu asyik bermain. Saya kemudian menyadari bahwa seorang sepupu saya yang baik hati sedang mengejar-ngejar kedua anak Parjini untuk menyuapi makan siang.

Di situ untuk pertama kalinya saya merasa ada kejanggalan. Kenapa bukan Parjini yang menyuapi anak-anaknya? Dia memang lagi tidur, sih. Tapi kenapa tidak dibangunkan saja?

Tidak lama Parjini bangun. Dia keluar kamar dengan roll rambut masih menempel di dahi namun sudah berpakaian rapi. Saya makin merasa janggal ketika ibu Parjini yang juga hadir menyindir dia secara halus. “Parjini, anak-anakmu belum makan siang, lho”

“Biasanya mereka makan sendiri, hehehe…” jawab Parjini cengengesan. Lalu ia pergi mengambil hidangan untuk dia makan sendiri.

Akhirnya pertahanan diri saya untuk ber-positive thinking runtuh ketika tak lama seusai makan Parjini pamit kepada semua yang hadir secara terburu-buru. Ketika kami bertanya, ‘mau ke mana?’, Parjini menjawab “Mau ketemu-teman-teman di GI. Daaah”. Parjini pergi sendirian meninggalkan kedua anak-anaknya bersama kami para saudaranya demi hang out. Suami Parjini tidak ikutan sih, tapi saya menyaksikan sendiri bagaimana dia juga sama tidak berguna / tidak pahamnya dalam mengurus anak.

Sepeninggal Parjini saya kembali menyaksikan kepontang-pantingan sepupu saya yang baik hati dalam mengurus kedua anak Parjini. Perlu diketahui anak-anak Parjini ini tidak nakal, namun mereka anak-anak yang aktif. Ditambah dengan berkumpulnya banyak anak-anak yang seumuran mereka membuat kedua anak itu lebih aktif dari biasanya lantaran senang gara-gara ada banyak teman main. Perlu diketahui juga sepupu saya yang baik hati itu sendiri punya dua orang juga. Yang kecil masih bayi pula. Maka wajarlah ketika saya mendengar keluhan frustasi darinya yang tidak terima kerepotannya bertambah. “Parjini kenapa sih nggak mau ngurusin anaknya?” kesalnya.

Saya akhirnya bertanya kepada dia, sebenarnya apa yang terjadi dengan Parjini? Menurut sepupu saya yang baik hati, Parjini itu memang tidak suka anak kecil. Parjini kerja di pusat kota, sedangkan rumahnya di Depok. Itu membuat dia harus berangkat kerja setelah solat subuh dan sampai rumah lagi di atas jam 9 malam. Ditambah dia punya fisik yang lemah, dia gampang sekali jatuh lemas. Itulah yang membuat ia suka tidak punya energi lagi untuk mengurus anak.

Alasan sontoloyo macam apa itu? pikir saya.

Semua alasan itu tidak masuk akal di benak saya. Soalnya setelah saya menjadi ibu, saya merasakan dan juga melihat sendiri bagaimana seorang perempuan jadi punya kekuatan lebih demi anaknya. Saya punya teman yang ‘manja’ dan sangat takut dengan rasa sakit, namun ia bisa menahan rasa sakitnya melahirkan normal semata-mata demi anaknya. Saya melihat salah satu kerabat saya yang sangat jijikan dengan segala hal, namun begitu ia punya anak dia dengan cekatan mengganti popok kotoran anaknya dengan ceria.

Maka wajarlah jika saya berkesimpulan bahwa apa yang terjadi pada Parjini ini sebenarnya adalah masalah faktor keinginan. Menurut saya perempuan-perempuan seperti Parjini itu sebenarnya tidak ingin punya anak. Namun ia ‘dipaksa’ untuk punya anak karena tuntutan masyarakat. Bahwa setelah menikah itu HARUS punya anak. Masyarakat Indonesia itu sangat memandang hina pada perempuan yang tidak ingin punya anak.

Saya kemudian jatuh iba dengan Parjini. Pasti tekanan masyarakat begitu kuat sehingga jalan keluarnya adalah menuruti tekanan tersebut. Menolak atau melawan paradigma itu adalah sebuah dosa besar dan langsung mendapat cap ‘perempuan durhaka’.

Tapi lihatlah dampak dari kemanutan Parjini pada tekanan masyarakat terhadap tumbuh kembang anak-anaknya. Untung aja anak-anak Parjini itu diasuh oleh tangan yang tepat (oleh ibunya Parjini dan terkadang sepupu saya yang baik hati). Biasakah Anda bayangkan kalau anak-anak itu diurus oleh orang-orang yang salah? Dapat dipastikan bahwa anak-anak Parjini akan tumbuh jadi manusia-manusia yang tidak baik.

Kalau Anda pikir bahwa perempuan-perempuan seperti Parjini itu ada sedikit, Anda salah besar. Saya sendiri kenal ada empat orang perempuan yang tidak ingin punya anak seperti Parjini. Cuma dua orang diantara mereka yang berani terang-terangan menyatakan tidak ingin punya anak alias childfree. Salah satu yang terang-terangan tidak mau punya anak itu justru seorang perempuan berhijab lebar pula. Dan menariknya adalah dia sangat sayang dengan anak kecil, apalagi sama Kriby beeeuh sayang banget dia. Namun ia jelas-jelas mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi ibu. “Gue mau jadi tante aja, gue nggak mau jadi ibu,” ujarnya suatu hari pada saya.

Dua perempuan lainnya yang diam-diam tidak mau punya anak tingkah lakunya tidak jauh berbeda dengan Parjini. Yang satu malah pernah curhat ke saudaranya dengan kekesalan mendalam bahwa ia ingin menggugurkan anak kedua yang tengah ia kandung kala itu. Tentu saja tindakannya ditentang oleh pihak keluarga yang tidak mengerti keresahannya. Pada akhirnya ia melahirkan anak keduanya, namun keduanya tumbuh jadi anak yang tidak dekat dengan ibunya. Sepertinya anak-anak itu bisa merasakan ada hawa penolakan dari ibunya.

Yang satunya lagi sejak suami pertamanya meninggal dunia, dengan tanpa merasa bersalah ia menyerahkan anak-anaknya ke pihak kerabat dari almarhum suami untuk diurus. Sedangkan ia menikah lagi dengan lelaki baru.

Saya yakin pasti Anda agak gatal pengen berkomentar ‘ishh, ibu macam apa itu’ ke mereka. Namun coba ingat lagi, apakah mereka atau kita (perempuan) pernah ditanya “kamu mau punya anak tidak?” Saya yakin jawabannya adalah tidak. Ditanya “Nanti mau punya anak berapa?” sih sering.

Tindakan para ibu-ibu yang cuek dengan anaknya memang tidak dapat dibenarkan. Anak-anak itu berhak mendapatkan kasih sayang yang pantas. Mereka juga kan nggak pernah minta dilahirkan.

Namun sebelum kita menghakimi, cobalah untuk berpikir lebih netral. Kalau Anda salah satu orang yang suka berbasa-basi, “Anaknya udah berapa?” “Udah isi belum?” “Kapan nambah adik lagi?” maka Anda ikut andil mencetak para ibu yang cuek sama anaknya.

Saya adalah seorang ibu dan saya senang jadi ibu. Tapi saya mendukung perempuan-perempuan yang memutuskan untuk childfree. Kalau Anda (perempuan) memang tidak ingin punya anak, (entah karena malas ribet, nggak mau bentuk tubuh berubah, pengen berkarir lebih tinggi, takut miskin karena pengeluaran untuk anak itu gede banget, dan berbagai alasan lainnya) maka ungkapkan dan perjuangkanlah!

Mendingan Anda tidak usah punya anak, daripada terpaksa punya anak tapi tidak ingin mengurusnya. Dengan begitu Anda tidak perlu mencetak manusia-manusia yang sedih, terluka batin, dan tumbuh jadi manusia yang tidak baik.

Tidak usah pikirkan apa kata orang kalau Anda tidak ingin punya anak. Karena begitu Anda punya anak pun, omongan usil orang pasti ada aja. Yang mungkin perlu Anda pikirkan adalah bagaimana kalau keputusan Anda untuk childfree tidak sejalan dengan keinginan pasangan Anda? Di situlah komunikasi dan kompromi dalam hubungan Anda diuji. Ingat, berkomitmen itu adalah berkompromi. Namun jika sikap childfree Anda memang tidak bisa dikompromikan, jangan bertahan dalam hubungan itu karena ‘aku tidak bisa hidup tanpa dia (pasangan)’. Soalnya yang biasanya terjadi adalah lingkaran setan pertengkaran tentang topik yang sama atau ujung-ujungnya Anda mengalah dengan menuruti pasangan untuk punya anak. Lalu bertambahlah populasi anak-anak yang dicuekin ibunya lagi.

Anak itu anugerah karena ada begitu banyak kebahagiaan yang hadir dari mereka.

Tapi anak itu juga amanah. Dikatakan ‘amanah’ karena membesarkan anak itu memang tidak gampang. Maka pikirkanlah baik-baik sebelum punya anak.

Khusus untuk Anda kaum Adam, jika pasangan atau calon pasangan Anda adalah perempuan yang childfree, maka hormatilah. Hormatilah keputusannya karena itu adalah badannya. Perempuan berhak menentukan apa yang seharusnya terjadi pada badannya.

Kalau sikap childfree ini tidak sejalan dengan keinginan Anda, maka tolong jangan paksa kaum Hawa. Silakan pergi baik-baik untuk cari perempuan lain yang sepaham dengan Anda. Karena Anda berhak untuk bahagia menjadi ayah seperti sama berhak bahagianya seorang perempuan yang memutuskan untuk childfree.

 

Iklan

22 tanggapan untuk “Mendingan Nggak Usah Punya Anak, Deh

  1. Saya termasuk orang yang bingung kenapa tidak mau punya anak. Hahaa… Meski saya tetap menghargai mereka.

    Saya lebih ngerti orang enggak mau nikah daripada childfree. Karena ketika kamu berani nikah, kamu harus take a risk untuk punya anak. Enggak harus sekarang tapi suatu saat nanti. Karena nikah dan punya anak itu sepaket.

  2. Uwow. Ulasan yang makjleb Mak! Aku awal merit dl pengen pacaran setahun dl, gegara sering ditanyain “Udah isi belum?”, jadi deh belum ada setahun aku hamil. Tp emang tyt enakan py anak sih. Xixixi

  3. Karena semua memang pilihan. Mau punya anak atau tidak. Yang penting jangan terlena dan persiapkan masa tua sebaik mungkin jika tidak ada anak. Saya dulu juga ga mau punya anak, tp sempat hamil gagal dari situ berasa kena teguran karena di keluarga suami sangat mendambahkan cucu selama belasan tahun dr kakak2 suami. Akhirnya pas ada anak, naluri sebagai Ibu muncul sendiri. Meski saya harus kerja, ngurus anak, keluarga kadang ada rasa lelah tp semua menjadi pilihan yang harus bs saya pertanggung jawabkan.

    Sah-sah saja mau childfree yang penting tahu kosekuensinya.

  4. Duluuu aku jg menganggap cew yg ga mau punya anak itu aneh. Tp setelah jadi ibu aku mikirnya beda. Jadi ibu itu capek banget dan tanggungjawabnya dunia akhirat. Jd lebih baik ga punya anak kl ga mau. Tp jangan digugurin kl sudh hamil. Ya pinter2 lah gimana biar ga hamil. Atau steril aja sekalian. Daripada sudah punya anak tp ga mau ngurusin

  5. Sedih deh setiap melihat/membaca/mendengar anak anak yang terabaikan karena orang tua sepertinya tak siap punya anak.

    I really don’t want to point a fingers, but blaming all the mistake to society is kind of lame. Saya tetap menyalahkan orang tua yang menyerah pada tuntutan sosial. Buat saya, orang yang menikah berarti sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab terhadap pilihannya. Bahkan memilih untuk punya anak meski karena tuntutan sosial tetap lah pilihan.

    Children never ask to be born kan?

    1. Nah, itu…
      Sayangnya nggak semua orang, terutama perempuan, kuat menghadapi tekanan sosial. Banyak yang lebih memilih untuk nyerah aja daripada jadi ribet. Makanya mulai sekarang women must setrong!

  6. Sedih sy bacanya… Sy sbnrx mau punya anak satu sj, tp pas hamil anak kedua, rasanya jd senang bgt.. Malah kmrn pas pendarahan, rasanya nyawaku kayak hilang… Padahal si janin gpp.. Hmm entahlah… Setiap org berbeda.

  7. Ulasannya lain dari biasanya. Keren mak!
    Well, dalam hidup memang selalu ada pilihan, seperti mau punya anak berapa, bahkan mau atau tidak punya anak. Semua tergantung individunya. Tapi pendapat lazim yang berlaku di masyarakat kadang seolah menjado tuntutan hidup kita…

  8. Tambahan lagi, anak sebenernya adalah ‘tamu’ yg kita undang atas seizin Allah SWT. Jd ya memang hrs ‘sadar’ bener waktu memutuskan mau punya anak. Jgn sampe krn pressure sana-sini. Tos dulu lah sm krili!

  9. hi kak…. liat post ini krn dishare uung… setelah baca jadi mikir kak… aku ada temen yg ga mao punya anak dulu aku bingung lho beneran… kok aneh ya…? nanti tua dia siapa yg rawat? trus berdua doang sampe tua kaya film up? trus nanti ke panti jompo? dll dll… tapi baru2 ini ada jg temen yg kaya di cerita kakak di atas (persis) tiba2 jadi berpikir keknya lbh parah dr yg ga mao punya anak….karena bukan beban 2 org tapi jadi ke anak juga ya,lbh kasian hhehehe…thx for sharing kakk…muach!

  10. Finally!!artikel tentang wanita dan urusan peranakan yg aku setujui, punya anak jaman sekarang emang pressurenya bisa dibilang melebihi jaman ibu kita dulu. Karena dengan bertambahnya populasi, perebutan sumber daya jadi makin sengit. Aku jg bisa dibilang termasuk calon yg ragu untuk punya anak, ngeliat keadaan (tinggal di Jakarta) yang makin sesak dan brutal, nggak tega untuk punya anak yang harus tinggal di keadaan kayak gitu. Baru umur 23 tapi udah mulai ditanyain kapan nikah, memang basa basi orang Indonesia kadang gak berfaedah. Menurutku punya anak itu lebih dari sekedar alasan ‘biar ada yg ngurusin pas tua’, anak itu ada agar legacy ilmu atau penemuan dari generasi kita bisa diteruskan dan terus dikembangkan oleh generasi mereka. Dan supaya generasi mereka bisa siap untuk lebih berkembang dibanding kita, mental kita sebagai calon orang tua pun harus siap juga. Jadi, bagiku sendiri kurang bisa nangkep untuk pasangan yg punya anak dengan alasan sekedar ‘banyak anak banyak rezeki’.

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s