Diposkan pada blog

Tita

Beberapa minggu yang lalu gw keingetan ama teman SMP gw, namanya Tita.
Anaknya baik, riang, kurus, alisnya cuma segaris tipis tapi tegas dan bagus. Dia benci sih ama alisnya. Tapi menurut gw alisnya seperti Twiggy versi nggak terlalu tinggi.

Gw ingat dia punya adik perempuan yang waktu itu masih SD. Adiknya tahu kalau dia naksir sama cowo di dekat rumah mereka. Adiknya jadi suka lewat depan rumah cowo itu hanya semata-mata pengen melihat ‘gebetannya si kakak’. Eeeh cowo itu malah jadi rajin nyapa dan ngobrol ama adiknya. Tita cerita itu dengan sebal banget, tapi diam-diam gw menganggap cerita dia lucu.

Gw pernah satu grup seni musik ama Tita. Kami akan diambil penilaian untuk main suling. Tita grogi dan dia latihan terus di kelas demi dapat nilai bagus. Pas udah giliran grup kami ‘mentas’, tahu-tahu adalah anak yang gw nggak ingat lagi namanya siapa pokoknya dia berisik dan suka maksa, dia mau ikutan grup kita. Soalnya dia nggak diterima di grup mana pun. Pak guru kesenian yang waktu itu melihat grup kami udah kebanyakan orang pun membelah grup kami demi si berisik dan tukang maksa itu bisa bergabung.
Alhasil kekompakan grup hasila latihan kami selama beberapa hari pecah. Tita salah satu yang dapat nilai lebih rendah dari targetnya. Nggak berapa lama setelah ‘mentas’, gw lihat Tita nangis di bangkunya. Gw juga sebel dan sedih. Tapi gw diam aja, nggak tahu harus bagaimana.

Setelah masa sekolah, gw hilang kontak ama Tita. Tahu-tahu di suatu sore pas gw pulang kuliah, gw dipertemukan lagi sama Tita di angkot. Kami ngobrol, bertanya kabar, blablabla sampai gw harus turun karena sudah sampai di tujuan gw. “Daaah, Tita!” kata gw. Gw bilang begitu seperti tidak akan merasa kehilangan apa pun. Seperti bukan perpisahan yang besar. Tanpa gw tahu kalau itu benar-benar kali terakhirnya gw melihat Tita.

Barusan gw buka Facebook, ada postingan di antara teman-teman SMP gw yang mengucapkan belasungkawa atas kepergian Tita. Gw nggak tahu penyebab meninggalnya kenapa. Yang pasti gw shock.

Beberapa minggu lalu gw keingetan dia tapi gw nggak berbuat apa-apa buat kontak dia. Teman macam apa gw ini?
Ternyata tanpa sadar gw ini terlalu ketergantungan dengan teknologi sebagai penghubung komunikasi gw dengan orang-orang yang jauh. Gw selalu berpikir, ‘they are not that far. They are just one click away.’ Karena jarak mereka sesederhana sebuah klik, gw jadinya nggak pernah meng-klik-klik untuk cari tahu. Kesederhanaan dalam sebuah komunikasi membuat gw jadi meremehkan pentingnya dari komunikasi tersebut. Teman macam apa gw ini?

Gw kini kembali jadi Adis si anak SMP yang sedih dan sebal tapi diam aja karena nggak tahu harus gimana. Adis yang nggak tahu harus gimana menjawab pertanyaan: teman macam apa gw ini?

View on Path

Iklan

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s