Racun Era Digital

Waktu kecil guru ngaji gw pernah cerita bahwa ketika syaiton diusir dari surga karena nggak mau hormat ama Nabi Adam, ia pun bersumpah bahwa ia akan menggoda anak cucu Nabi Adam sampai akhir zaman.

Dan kini tiba waktunya gw kena godaan syaiton laknat tersebut.

Kena godaan apa, Dis? Judi?

Dih, sorry lah yaw!

Narkoba?

Cuih! Sory ye, gw anaknya ogah ngerusak badan dan otak.

Miras?

Maap ya, tenggorokan ane kaga doyan begituan. Bisanya minum teh manis anget.

Jadi kena godaan apa dong? Lipstik Lime Crime?

Euh…. Agak menggoda sih itu. Tapi nggak kok, bukan itu godaannya.

Godaan yang gw hadapi adalah media sosial!

Gw ingat pada awal muncul ya medsos, semua orang sepertinya memosting dengan riang. Semua senang karena sekarang ada wadah untuk mencurahkan apa yang mereka rasakan, mereka lihat, ataupun mereka dengar. Karena medsos begitu menyita waktu dan perhatian manusia, maka si syaiton pun melihat celah untuk melancarkan aksi godanya. Ia pun mengubah medsos sebagai wadah untuk pamer dan menyemai iri serta dengki.

Nah gw kena taburan irinya tuh. Kadang-kadang juga bisa ampe jadi dengki. Gw yang sekarang ini bisa dikatakan kegiatan gw hanya seputaran tiga petak kontrakan gw yang makin hari makin terasa sempit nan gerah, pas buka medsos jadi iri sama teman-teman yang berada di hawa sejuk AC kantornya. Kalau Kriby rewel atau nangis, gw jadi iri sama teman-teman gw yang lagi liburan dan menikmati me time mereka. Kalau gw lagi ada deadline kerjaan dan mepet, gw jadi iri sama teman-teman yang bisa mengerjakan tugas-tugas mereka dengan tenang tanpa harus terdistraksi ataupun membelah diri untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Kalau gw lapar, belum sempat masak, dan Kriby lagi nggak bisa ditinggal (iya, jadi ibu yang mengurus anaknya sendirian tanpa bantuan baby sitter itu bisa membuat lo jadi susah makan karena nggak ada waktu buat makan), gw jadi iri liat postingan teman-teman gw yang lagi makan di restoran hits di sana-sini.

Gw iri lah pokoknya.

Gw pikir ini adalah penyakit yang gw doang yang ngalamin. Ternyata pas gw cerita ke salah satu sahabat masa kecil gw, si Astapiluloh, dia pun mengalami hal yang sama. Kok bisa? Dia kan anak horangkayah. Punya mobil, tinggal di rumah bagus (rumah orang tuanya sih, tapi rumahnya bagus dan ada ART yang siap membantu), karier oke, istri cantik nan pintar. Lalu apa lagi yang dia irikan?

Ternyata apa yang terjadi di hidup orang lain tidak seindah permukaanya. Di balik kekayaan yang gw lihat, ternyata si Astapiluloh lagi mati-matian cari uang untuk anaknya. Anak lelakinya yang lucu itu terlahir prematur sehingga segala perkembangan tubuhnya terlambat dan butuh perawatan khusus. Istri udah resign dari pekerjaannya yang menjanjikan demi mengurus anak mereka. Dia sendiri sedang mengalami karier yang agak mandek karena ia terlalu banyak izin untuk membantu perawatan anaknya.

Ya ampun, ternyata…

“Sekarang bayangin perasaan gw pas ngeliat postingan teman-teman gw yang sekarang udah punya rumah di Cilandak, kariernya melejit, kalau liburan ke Bali nginepnya di hotel mewah bukan hotel ala kadarnya,” curhatnya waktu itu via Whatsapp.

Astapiluloh juga membenarkan bahwa istrinya mengalami godaan medsos yang sama. Gw jadi tambah nggak enak hati sama si Astapiluloh. Soalnya gw jadi ingat perkataan Si Punk Rock dan seorang teman cowok gw yang sudah berstatus suami seseorang mengenai perasaan cowok tentang keluhan istri. Ternyata ya bu-ibu, para suami yang sayang sama istrinya itu suka sedih kalau mendengar keluhan istri. Misalnya, “Pah, tadi Mamah naik angkot gerah banget, deh. Keringetannya sampai seember bisa buat nyiram padi.”

Ucapan tersebut yang masuk ke telinga dan hati suami yang baik adalah “Ya ampun… Istri gw kegerahan naik angkot. Kenapa sih gw nggak bisa beliin dia mobil. Pilunya hati ini…”

atau

“Ayah, masa tadi di TV Chef Gogon Ramsei bikin fruit cake dari buah aprikot. Kayaknya enak, tapi pasti itu mahal.”

Ucapan tersebut yang masuk ke telinga dan hati suami yang baik adalah “Ya Allah… Istriku kelaperan nonton TV. Kenapa sih dia laperan mulu? Kenapa sih dia nggak kenyang dengan makan semangkuk bubur ayam?”———> Waaaaaah! Ini sih suami songong dan ngerasa ganteng macam Kiwil. Ceraikan saja suami macam ini ya bu-ibu.

Balik ke perihal Astapiluloh, sepanjang gw mengenal, dia adalah suami yang baik. Walaupun dia nggak ngomong, gw yakin dalam hati ia sedih ketika mengetahui istrinya pun kena godaan medsos.

Jadi emang bener ya pepatah bijak bahasa Inggris yang suka diposting quote itu lho. Kayak yang ini lho…

(Izin nyomot dari Google)
(Izin nyomot dari Google)

Hal itu membuat gw berpikir dalam. Setelah gw ingat-ingat kembali, ternyata hidup gw di kontrakan tiga petak yang makin hari makin sempit karena banyak barang ini juga nggak jelek-jelek amat. Gw malah sekarang yakin banyak juga yang iri dengan melihat postingan medsos gw. Ya gimana mereka nggak iri, gw itu kan…

-punya suami yang baik dan sayang banget sama gw. Karena gw tahu ada di antara mereka yang menikahi orang yang mereka cintai tapi tidak mendapat balasan cinta yang sama besar.

-punya suami yang humoris yang selalu bisa bikin gw ketawa setiap hari dan mempermudah segala komunikasi di antara kami. Karena gw tahu di antara mereka ada yang diberikan kelimpahan materi oleh pasangannya, tapi ia nggak bisa bertukar pikiran dengan pasangannya.

-punya anak yang lucu dan sehat (sehat-sehat terus ya, nak. Bunda love u beud!). Karena gw tahu di antara mereka ada yang sedang mengorbankan apa pun agar anaknya sehat. Bahkan sebagian dari mereka ada yang sedang berusaha mati-matian hanya semata-mata bisa punya anak.

-punya kulkas yang isinya tidak kekurangan bahan makanan, kompor, panci, dan wajan yang cukup untuk memasaki suami dan anak gw. Karena gw tahu di antara mereka ada yang selalu makan di restoran enak, padahal yang sebenarnya mereka inginkan adalah dimasakin oleh pasangannya.

-punya motor yang buluk karena jarang dicuci, namun selalu gw-Si Punk Rock-Kriby kendarai dengan riang. Karena gw tahu di antara mereka ada yang punya mobil yang nyaman, tapi hanya diam-diaman ketika dikendarai bersama pasangannya.

 

Eh kalau gw terusin listnya bakal panjang banget, nih.

Intinya sih, jangan salahkan teman-teman lo posting apa di medsos. Mereka nggak pamer, mereka hanya menjalani hidup mereka. Maka dari itu, lo jalani lah hidup lo juga. Meskipun hidup lo apa adanya banget, lo nggak akan pernah tahu bahwa apa yang lo punya itu bisa dikatakan sebagai keberuntungan bagi orang lain.

Kalaupun teman-teman lo emang niat pamer di medsos, itu artinya ada sesuatu dalam hidup mereka yang ingin mereka tutupi dengan cara mengalihkan perhatian kita. Dan biasanya hal-hal yang mereka tutupi itu nggak akan bikin lo iri sama sekali.

Medsos bukan racun. Tapi cara kita mengolah informasi atau postingan di medsos itu bisa jadi racun. Inga-inga, itu adalah si syaiton lagi mencoba menggoda lo. Tiap kali lo merasa tergoda, ulangi mantra pengusir syaiton yang pernah ditulis oleh teman gw, si Daud Bocah Pintar berikut…

The devil is whispering but I’m not listening…

 

Iklan

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s