Diposkan pada blog

Kenapa Masih Sendiri?

Begadangan ama adik. Ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas (momen langka nih!).

Gw: Sekarang kakak main surat-suratan lho sama Ijah (bukan nama sebenarnya). Agam ingat Ijah nggak?

Agam: Ijah? Oh iya, yang chinese dan manis itu kan?

Gw: Iya. Eh kalau Agam ada kenalan cowok chinese, Nasrani, masih sendiri, dan seumuran kakak, kenalin sama kakak ya. Biar kakak kenalin ke Ijah.

Agam: *berpikir*. Cowok, chinese, Nasrani, masih sendiri, dan seumuran kakak? Hmmm… Nggak ada. Adanya  yang umurnya di bawah kakak.

Gw: Yah…

Agam: Tapi kalau cewek seumuran kakak yang masih sendiri, Agam ada kenal banyak.

Lalu gw tertegun sementara Agam menyebut beberapa nama kenalannya yang ia maksud.

Umur gw 30. Kenapa saat ini banyak cewek seumuran gw yang masih sendiri?

(Gambar: Izin ngambil dari Google)
(Gambar: Izin ngambil dari Google)

Gw alhamdulillah udah menemukan jodoh-partner-sahabat hidup gw yaitu Si Punk Rock. Tapi kalau aja gw nggak dipertemukan ama dia, gw yakin gw akan masuk dalam daftar cewek yang adik gw sebut tadi. Sebelum ketemu Si Punk Rock gw menjomblo selama sekitar 6 tahunan. Dan gw berani bilang itu jomblo karena pilihan. Bukan menjomblo karena nggak laku ya, sori-sori maap nih *kibas rambut dengan sok*. Yang datang mendekati selalu datang dan pergi, yang bikin PHP juga ada sampe menusuk di hati, yang gw cuekin sampai blacklist pun ada gw catat sampai saat ini.

Nyari jodoh memang nggak gampang, makanya di situ tangan Tuhan berperan. Tapi di mana peran Tuhan untuk orang-orang terutama teman-teman perempuan gw yang sampai sekarang masih sendiri? Waktu dulu gw masih berjomblo ria, orang-orang yang konon perhatian sekaligus prihatin dengan kesendirian gw selalu berasumsi bahwa singlehood gw itu disebabkan kesibukkan gw berkarier. Apakah itu benar? Mungkin iya. Tapi apakah lo nggak lebih prihatin kalau melihat cewek yang meninggalkan karier dan pekerjaannya demi mengejar laki-laki? Gw pernah diceritakan teman gw, dimana di kantornya ada cewek yang yang bela-belain begadang nggak tidur demi hang out semalaman ama gebetannya. Keesokan paginya ia muncul dengan baju kucel dan tampang belum mandi dan kerjaannya hari itu nggak produktif. Pertanyaannya adalah, is he that good? Is he that worth it? Apakah cewek seperti itu yang patut kalian acungi jempol dan kalian jadi ikut berbahagia atas usahanya mendapatkan jodoh? Kalau jawaban lo iya, maka sori-sori maap nih, lo dan gw punya pemikiran yang berbeda jauh. Sejauh Bekasi dan Ciledug.

Tapi gw nggak memungkiri bahwa rata-rata teman-teman perempuan gw dan Agam yang masih sendiri itu punya karier yang cukup cemerlang. Jadi bisa dikatakan memang faktor karier ini sedikit-banyak mempengaruhi penyandangan status kesendirian mereka. Tapi gw rasa pengaruhnya bukan dari segi gila kerja sampai nggak mau angkat muka dari laptopnya. Melainkan dari segi pola pikirnya.

Saat gw jomblo dan ‘sibuk mengejar karier’ dulu, semakin banyak pengalaman dan pengetahuan yang gw dapat, maka semakin terbuka serta sadar juga gw dengan apa yang sebenarnya gw inginkan dalam sebuah hubungan percintaan. Gw jadi punya kriteria dan standarisasi tertentu yang tertanam teguh sehingga itu menjadi harga mati. Pasti lo semua mikir bahwa standar tersebut menyangkut materi, ya kan? Ya kan? Halaaah ngaku aja deh lo. Gw tahu kalau lo pasti mikirnya gitu deh. Keliatan tuh dari muka lo. Ada benarnya sih, tapi nggak sepenuhnya benar.

Begini. Kalau misalnya ada cewek nih ya, dia sudah mapan karena pekerjaannya, lalu katakanlah gajinya perbulan itu  10 juta. Lalu dia ketemu cowok, naksir-naksiran, terus si cowok itu jadi tahu kalau gaji si cewek melebihi gajinya. Kira-kira menurut lo nih ya, yang bakal mundur duluan siapa? Kalau berdasarkan pengalaman gw nih ya, kebanyakan sih cowoknya duluan yang suka mundur teratur. Cowok yang pernah mampir dan tetap tinggal dalam hidup gw begitu tahu fakta semacam itu  ya cuma Si Punk Rock (walau gaji gw nggak 10 juta juga sih. Insya Allah gw bakal punya gaji segitu, lebih malah. AMIEEN!). Kalau sudah begitu maka yang lebih mempermasalahkan materi itu lelaki atau perempuan?

Makanya banyak perempuan yang berkarier cemerlang dan kemudian membawanya jadi berpenghasilan cukup besar mencari lelaki yang tingkat kemapanannya melebihi dirinya. Karena kami perempuan malas kalau menjadikan kemampuan kami memenuhi materi menjadi persoalan dalam sebuah hubungan, apalagi rumah tangga. Soalnya abis gitu cowok pasti akan membawa-bawa ajaran “perempuan itu harus nurut sama suami’ atau ‘perempuan jadi ngelunjak kalau bisa nyari duit sendiri’. Padahal yang sebenarnya insecure dalam hal ini siapa?

Lalu apa lagi yang membuat perempuan rentan sendiri profesor Adisti? Menurut gw, kepintaran dan prinsip juga berpotensi membuat perempuan jadi sendiri. Kalau si cewek udah bertemu dengan cowo yang nggak punya masalah kemampanan, maka si cowok pun masuk ke dalam penyaringan level selanjutnya. Yaitu keegoisan dan segala sifat yang tidak bisa ditolerir lainnya. Perempuan yang kariernya cemerlang cenderung punya tingkat kelogisan lebih tinggi dibanding yang tidak. Maka mereka pun dapat menilai sifat lelaki secara logis. Kalau ada cowok yang membatasi gerak si cewek, sedangkan dia tidak mau diperlakukan hal yang sama oleh pasangan dengan alasan ‘karena aku tuh cowok’, maka logislah kalau si cewek jadi ogah untuk bertahan sama lelaki macam itu. Karena sebesar-besarnya perasaan perempuan yang bisa mengontaminasi pemikiran perempuan, tetap kalah besar dengan tingkat kelogisan cowok egois. Cowok egois itu tidak bisa dibantah, artinya dia tidak bisa diajak diskusi atau bertukar pikiran. Lalu perempuan perempuan dengan karier cemerlang nan cerdas mana yang betah dianggap ‘bego’ hanya demi menuruti keegoisan nggak genah begitu?

Sudah jelaskah sebab-musabab perempuan yang berusia 30an dan berkarier cemerlang masih sendiri? Menurut gw sih kesimpulannya adalah perempuan berusia 30an dan berkarier cemerlang itu masih sendiri karena memang belum menemukan si padanannya yang selevel. Untuk itu diperlukan kegigihan si lelaki untuk mengejar si perempuan sampai level tersebut.

Paham? Paham? *celingak-celinguk*

Okelah kalau begitu. Mari kita dengarkan lagu rikuesan Bang Rosyid nyang dari tadi manggut-manggut aje di pojokan sana. Bae-bae bang dipatok soang. Sikat bang lagunya…

Iklan

2 tanggapan untuk “Kenapa Masih Sendiri?

  1. Mbak Krili ^^ salam kenal *sksd

    He, kemaren-kemaren nyasar ke blog (web?) ini dan . . . ternyata nyasar yang membahagiakan 😀 tulisan mbak sukses bikin perut saya berkontraksi. Sudah distalk dari awal lho *apakahtermasukpembacasetia(?)
    Ditunggu lanjutan tulisannya. Mmm, maaf ga nyambung sama tulisannya, anggap aja sebagai motivasi untuk nulis lagi *hallowsiapagueh
    Titip sun sayang buat Kriby :*

    1. Aduh, makasih yaaaaa! Walaupun aku udah sering dapat pujian (maklumlah, dari lahir kan gw udah aowseum) tapi komenmu sungguh menceriakan hariku. Makasih ya udah baca ^__^

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s