Diposkan pada blog

Labeling

Pada suatu Sabtu siang yang santai, gw dan Si Punk Rock bertukar pikiran. Berawal dari gw yang membuka percakapan…

“Kemarin pas aku ketemuan sama Chika, dia cerita soal artikelnya Mba Petty beberapa minggu lalu yang lumayan bikin heboh. Mba Petty bikin tajuk rencana di majalahnya tentang labeling. Tentang bagaimana orang jaman sekarang yang mudah banget melabelkan dirinya sebagai seorang profesional di bidang tertentu. Misalnya, baru bikin blog dikit, udah melabelkan diri sebagai blogger, atau baru bisa jalan-jalan dikit udah melabelkan diri sebagai traveler,” cerita gw.

Ini dia artikelnya. (Foto: Rizka Chika)
Ini dia artikelnya.
(Foto: Rizka Chika)

“Lho? Kok gitu sih?” tanya Si Punk Rock sambil memincingkan matanya.

“Iya, aku setuju sih dengan tulisan Mba Petty itu. Soalnya semua profesional itu butuh proses, nggak instan. Contohnya kayak teman aku si Sunaryati (bukan nama sebenarnya), dia menyebut dirinya sebagai stylist dan dia sering banget dapat job stylist karena label dirinya. Padahal tiap aku lihat hasil styling-an dia di Instagramnya, biasa banget! Kalau aku jadi kliennya, aku nggak butuh stylist khusus deh untuk bisa berpakaian seperti itu.”

“Yaaa, kalau gitu biar aja orang yang menilai kerjaan dia bagus atau nggak. Dan biarkan aja dia mau melabelkan dirinya apa. Itu kan hak dia.”

Hmmm, sepertinya Si Punk Rock tidak setuju dengan artikel yang ditulis Mba Petty. Tapi gw diamkan saja dulu. Karena sepertinya dia belum selesai mengungkapkan pendapatnya.

“Orang yang ngomong begitu pasti karena pride senior aja. Dan sejujurnya aku agak sebel dengan senioritas. Ini sama aja kayak seniman senior di sebuah organisasi kesenian di Jakarta yang belum lama ini ngamuk-ngamuk minta sebuah geng seniman junior dibubarkan. Sepertinya dia iri karena para juniornya lebih mencorong namanya ketimbang si senior. Padahal mah, kalau lo mau terkenal juga, ya berkarya dong. Jangan mentang-mentang senior terus minta didatangin duluan buat dikasih kerjaan,” jelas Si Punk Rock lagi.

“Itu pernah juga dialami sama band aku. Teman-teman band seangkatan aku pada sebel sama band aku karena kita sebagai band punk Bekasi berhasil nembus scene punk Jakarta dan bergaul sama senior-senior punk di scene tersebut. Ya kalau lo mau kayak gw, ya lo buka diri lo dong. Bergaul juga sama senior, nongkrong, dan kenalin band lo seperti apa. Jangan cuma berharap disamperin. Gara-gara itu, aku jadi punya label sebagai ‘Walikota Bekasi’ di scene punk. Itu sindiran sekaligus pujian. Padahal sih nggak kayak gitu…” sambung Si Punk Rock.

“Nah itu, kamu kan dapat label itu dari orang. Bukan kamu melabelkan diri,” kata gw.

“Tapi kan mau nggak mau, label itu akan kamu buat sendiri juga. Misalnya pas kamu bikin akun Myspace atau Facebook buat band kamu. Atau kalau buat orang lain yang kaum profesional, pas mereka bikin akun Linkedin atau kartu nama, mereka harus melabelkan dirinya sendiri dulu dong biar orang tahu mereka itu apa. Sama kayak Ruang Rupa yang begitu muncul melabelkan diri mereka sebagai ‘Seniman Inisiatif’ alias seniman yang berinisiatif bikin karya aja dengan ruang yang mereka punya. Mereka mendobrak stigma bahwa karya seni itu harus di galeri elit dan hanya didatangi orang-orang kaya. Semua berawal dari label, lalu mereka tunjukkan hasilnya.”

“Jadi kamu nggak setuju artikelnya Mba Petty?”

“Nggak.”

“Aku sih setuju sama artikelnya Mba Petty. Karena aku memang menjumpai langsung orang yang segitu mudahnya melabelkan diri mereka sebelum mempunyai karya yang mumpuni untuk menyandang label tersebut. Selain itu aku ngefans sama Mba Petty. Sejauh ini pemikiran dan arahannya selalu sesuai dengan pemikiranku. Kalau aku model, dia itu seperti Ari Tulangnya. Kalau aku ini Jokowi, Mba Petty itu seperti ibu Megawatinya, dan ini nggak ada hubungannya dengan kesukaan Mba Petty pakai baju merah lho ya. Tapi kamu nggak apa-apa kan kalau aku nggak sepaham sama kamu?”

“Nggak apa-apa lah,” jawab Si Punk Rock dengan santai.

Sometimes disagreeing on something can expand your knowledge. That is why I love this man!

Iklan

8 tanggapan untuk “Labeling

  1. Gue nggak melabeli diri gue tp banyak yg melabeli gue dengan label kerjaan ini itu sesuai dengan apa yang gue lakuin. Akhirnya jadi label gue deh. Gmana dong? Hahahaha

    Eh yg stylist itu maksudnya gue kaan? #eaaa

    1. Walah, jadi dirimu yg merasa hahahaha. Soal label, artinya lo sepaham sama gw, bahwa label itu harusnya datang dari orang lain kpd diri kita. Bukan kita yg melabeli diri kita. Ya ga? *tos* *kasih tatapan kemenangan ke Tukul*

  2. Wih menarik nihhh…
    Pemilihan topik n analisa yg seru dr mbak petz.
    Mnrt gue sih, elo n mas punk rock sama sama got a point.

    Predikat tertentu membutuhkan kualifikasi dan pertangungjawaban *caelahhh*, tp gue juga berpendapat kadang melabelkan diri sendiri itu perlu lho. Misalnya saat mencari kerjaan. Apalagi yg freelancer, mesti effort berkoar-koar;
    “Hey im writer, im stylist…. give me the job”, hehehehehe…

  3. Hahaha.. Tadinya gw di pihak mbak petz. Terus gw kasih liat tajuk rencana ini ke kak RG. Dia mirip ky punk rock. Ga setuju sm mbak petz. Dan alasannya logis jg trus aku bingung berada di pihak yg mana haha….

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s