Review: Boy, Tales of Childhood

Gw suka banget ama karya-karyanya Roald Dahl. Menurut gw, dia adalah penutur dan pendongeng yang ulung. Walaupun gw belum baca semua karangannya, tapi buku-bukunya selalu menjadi top of mind gw kalau ada yang minta rekomendasi buku anak-anak.

Dari sekian banyak buku karya Roald Dahl, ada satu buku yang pengen banget gw baca, yaitu Boy, Tales Of Childhood ini! Tapi sepengetahuan gw, buku ini nggak masuk ke Indonesia. Nggak tahu kenapa :-/

Nah, makanya ketika saya menemukan buku ini di sebuah toko mainan di Bali pada saat bulan madu, gw senangnya bukan main! Pada awalnya gw dan Si Punk Rock masuk toko itu hanya sekedar ingin melihat-lihat, karena tampilan luar tokonya menarik. Sayang gw lupa nama tokonya. Barusan gw coba Google, tapi nggak nemu juga. Mungkin keyword gw salah.

Eniwei, toko itu menjual mainan dan (saat itu) kostum Halloween, maklum kami ke sana pada pertengahan Oktober 2013. Toko itu sempat terlewat oleh motor yang dipacu Si Punk Rock . Tapi gw minta dia putar balik biar bisa ke toko itu. Ternyata permintaan gw nggak salah, karena gw dipanggil balik oleh buku ini yang lagi berdiri rapi di salah satu rak toko itu!

Berbeda dengan buku Roald Dahl lainnya, buku ini non-fiksi. Di buku ini ia menceritakan tentang masa kecilnya. Dari asal mula pernikahan ayahnya yang hanya punya satu tangan dengan ibunya, sampai prestasinya di sekolah. Roald Dahl tetap mempertahankan gaya bertuturnya yang mengalir, agak dongeng, kocaknya anak bocah, dan kesedihan yang diceriakan. Dan di buku ini dia juga menjelaskan kenapa dia tidak percaya dengan agama. (Apa mungkin itu alasan buku ini nggak diterjemahkan ke Indonesia ya?)

Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto dan potongan surat asli yang ditulis Roald Dahl ke ibunya. Ternyata tulisan tangan Roald Dahl itu jelek, lho. Ini berita bagus buat gw yang punya tulisan tangan jelek. Ini artinya gw akan jadi orang terkenal (lah???). Di akhir buku ini diberikan beberapa fakta tentang cara Roald Dahl menulis sehari-harinya. Buku ini menyenangkan!

Berikut quote favorit gw dari buku ini:

“Truth is more important than modesty.” (halaman 35) Quote yang sebenarnya terdengar bijak ini, dipaparkan Roald Dahl saat ia ingin menceritakan salah satu perbuatan ‘berani’nya. Jadi kalau di buku, quote ini adalah pembenarannya untuk nyombongin diri sih 😀

“A person is a fool to become a writer. His only compensation is absolute freedom. He has no master except his own soul, and that, I am sure, is why he does it.” (halaman 172) Ini juga quote yang sebenarnya menjelaskan alasannya menjadi penulis. Tapi sok-sok nggak ngaku. Begitulah Roald Dahl. Dia memang punya selera humor yang keren. Setidaknya, humornya dia cocok sama selera gw.

Sekarang gw akan berburu buku kelanjutannya, yaitu Boy and Going Solo. Doakan saya bisa menemukannya! (Lari-lari ala peserta Takeshi Castle. Lalu kecebur got).

Iklan

3 respons untuk ‘Review: Boy, Tales of Childhood

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s