Dua Hari Lagi

Kemarin gw ‘berkencan’ dengan Faya.

Bisa dibilang udah lama juga nggak ketemu makhluk yang satu ini. Soalnya gw sibuk persiapin pernikahan, dianya sibuk liputan. Dia aja baru aja pulang dari Palembang liputan ISG (Islamic Solidarity Games). Padahal kami satu kosan.

Gw (akhirnya) ketemu dia pagi-pagi. Lebih tepatnya di saat gw baru selesai mandi dan bersiap untuk berangkat kantor. Dia ngetok kamar. Pas denger suaranya manggil, mood gw langsung riang. Rupanya gw segitu kangennya sama orang ini.

Dia masuk ke kamar gw gw dengan mata beler khas orang baru bangun dan langsung mengomentari keberantakan kamar gw. Kemudian kami langsung bertukar cerita. Dia tiduran di kasur gw, sambil nontonin gw bersiap. 

Gw udah harus berangkat. Tapi gw masih pengen ngobrol sama Faya.

“Lo hari ini ke mana?” tanya gw.

“Ntar gw (Faya menyebut sebuah tempat, tapi gw lupa di mana). Ada liputan (menyebut acara, tapi gw lupa apa). Kenapa emang?”

“Gw nanti pengen nonton Gravity. Ikut nggak?”

Faya bilang kayaknya dia nggak bisa. Hmm… Ya sudah deh.

 

Siangnya gw dapat telpon dari Papa. Gw malas menceritakan apa isi percakapan kami, tapi pokoknya obrolan gw dengan Papa bikin gw spaneng. Gw langsung membereskan masalah saat itu juga, karena kesabaran gw udah habis. Tapi begitu telponnya udahan, spaneng gw masih nyisa nggak mau ilang.

Gw harus cerita. Tapi cerita ke siapa ya? Kasian kalau cerita ke Si Punk Rock. Dia lagi sibuk parah buat nyelesain kerjaan sebelum cuti nikah. Gw cerita ke siapa ya? Cuma Faya sih yang tahu semua hal-hal tentang gw saat ini. Gw pun Whatsapp Faya panjang lebar. Kata Faya gw harus sabar. Gw jawab, iya, gw cuma butuh tempat cerita kok. Makasih ya udah mau nyimak. Dia bilang makasih udah mau berbagi cerita.

Sorenya Faya Whatsapp. Intinya dia bisa ikut nonton sore itu. Horeeeeee!

Kami akan nonton di FX. Gw sampai dua jam lebih cepat karena nebeng taksi Icha yang mau meeting di FX juga. Sembari menunggu Faya, gw dan Icha makan. Sejam kemudian gw dapat notifikasi Twitter dari Faya. Rupanya Faya ngetweet begini….

“tonight, i’m going to have my last date with my besties @krilianeh, before she tie the knot with @WahyuChandraK this saturday. *excited. :)”

Wuah… Iya juga ya. Ini ‘kencan’ terakhir gw sama Faya sebelum gw nikah. Gw senang sekaligus sedih. Gw senang karena gw akan segera menikah dengan Si Punk Rock. Gw senang karena Faya ikut senang dengan kebahagiaan gw. Tapi gw sedih harus ‘pisah’ dari Faya. Setelah gw nikah, artinya nggak ada lagi gw begadang cerita sampai tengah malam di kamarnya Faya (abis kamar gw berantakan)

Kaki Faya langsing, kaki gw (selalu) bengkak (kayak orang kelamaan pake high heels)
Kaki Faya langsing, kaki gw (selalu) bengkak (kayak orang kelamaan pake high heels)

Nggak ada lagi nyari makan malam tengah malam karena perut si Faya suka keroncongan di jam-jam aneh. Nggak ada lagi, nyelonong masuk kamar Faya buat ‘pinjam komik dong’ lalu dilanjutkan dengan ‘eh lo tahu nggak si blablabla….masa dia blablabla…’. Nggak ada lagi ‘hey Distih!’ yang suka diteriakin si Faya kalau gw baru pulang pacaran dan dia lagi sibuk ngetik atau nonton di ruang tv lantai dua kosan.

Perubahan.

Itulah hidup. Pasti akan ada perubahan.

 

Eh, Faya udah sampai FX. Dia nggak mau makan di tempat gw makan. Dia mau makan sushi. Gw dan Faya kalau ‘kencan’ memang makan sushi sih. Tapi waktunya cukup nggak ya? Setengah jam lagi filmnya mulai. Coba aja deh.

Singkat cerita, makan sushi ini memnag memakan waktu lama. Kami terlambat masuk bioskop. Sesampainya di lantai tempat bioskop, Faya ngajak gw lari ke studio teater. Dia selalu staminanya lebih kuat daripada gw. Dia doyan olahraga sih. Gw agak malas sih lari. Soalnya badan macam gw ini, kalau lari dikit, yang goyang banyak. Gw jadi nggak pede. Tapi lari sama Faya kali ini bikin gw merasa muda lagi. Gw belum tua sih. Yah… 28 my age. Tapi lari sama Faya ini bikin gw seperti flashback ke jaman kuliah dulu, jaman gw pertama kali berteman dengan Faya.

Kami nonton Gravity. Kami deg-degan bareng. Tegang bareng. Ketawa dan berkomentar dodol bareng.

Sepulang nonton, gw dan Faya naik taksi buat pulang ke kosan. Jalanan agak macet karena abis ujan. Faya kemudian cerita kalau dia tanpa sengaja membongkar ketidakberesan Menpora dalam menggaji para atlet. Dan tulisannya tentang itu bikin Menpora kebakaran jenggot. Guilaaaa! Faya keren banget! Kalau lo wartawan dan lo bisa ‘membongkar kasus’, itu pencapaian yang keren banget man! Itu salah satu impian gw waktu kuliah jurnalistik dulu. Sampai sekarang gw nggak kesampaian mewujudkan mimpi yang satu itu. Tapi begitu dengar Faya berhasil di situ, gw ikut bangga dan senangnya bukan main. Gw sampai tweet biar semua orang tahu, dan Faya itu teman gw (nebeng beken laaah)

Sesampainya di kosan, gw langsung sibuk packing. Faya di kamarnya lanjut nonton serial Newsroom.

Sambil packing gw ingat-ingat lagi… Ini ‘kencan’ terakhir ya?

Gw akan kangen dengan ‘kencan-kencan’ ini.

Gw dan Faya di salah satu kencan siang-siang kami
Gw dan Faya di salah satu kencan siang-siang kami
Iklan

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s