Empat Hari Lagi

Bisa dikatakan gw dan Si Punk Rock mempersiapkan pernikahan ini semuanya sendirian. Kami pengantin DIY alias Do It Yourself, bukan Daerah Istimewa Yogyakarta lho ya.

Walaupun kami nanti akan menikah dengan syukuran kecil-kecilan dan sederhana aja, tapi persiapannya tetep aja nggak gampang. Semuanya kami kerjakan sendiri dari ngerancang undangan, ngurus surat nikah di KUA, bolak-balik KUA buat nentang korupsi yang dilakukan sama penghulunya, persiapin konsep, ampe beresin suvenir.

Keluarga inti gw nggak ada yang bantuin. Bahkan abang dan adik gw nanya udah sejauh mana persiapan gw aja kagak. Kebanyakan yang direpotkan di sini adalah keluarganya Si Punk Rock. Gw jadi nggak enak sekaligus bersyukur sama keluarga Si Punk Rock, dan bete tapi bingung mau gimana ama keluarga gw sendiri.

Sampailah pada suatu hari gw udah nggak tahan, gw ngomong dan sindir habis-habisan abang dan adik gw di grup Whatsapp intern kami. Adik gw defensive, abang gw diam seperti biasa. Antara bingung atau nggak peduli, gw juga nggak bisa bedain. Terserah lo deh!

Terus Sabtu lalu kekecewaan gw kepada keluarga gw bertambah. Gw udah request sama abang dan adik gw untuk sediakan waktu di hari tersebut untuk pengajian pra nikah gw. “Aku mau pengajian ini diurusin kayak pengantin yang lainnya. Aku mau ongkang-ongkang kaki. Aku capek ngurus semuanya. Aku mau diam dan duduk manis layaknya calon pengantin. Kalian yang urus semuanya,” kata gw ke mereka. Waktu itu sih mereka diam aja. Gw harap itu tanda setuju.

Sampailah H-3 sebelum pengajian, gw dikasih tahu Papa kalau adik dan abang gw nggak akan ada pas hari pengajian. “Si Agam liputan ke Purwokerto. Ada temannya yang sakit, jadi dia gantiin liputan. Si Mas harus keluar kota,” kata Papa via telpon.

“Bilang ke mereka, kalau mereka nggak mau datang pas hari pernikahan aku juga nggak apa-apa!” kata gw dengan emosi.

“Ya nggak gitu… Mereka kan kerja…” kata Papa lagi mencoba menenangkan.

“Justru itu. Mereka itu bukan orang baru di kantor masing-masing. Mereka itu bisa minta ganti atau izin sama kantor buat pengajian ini. Tapi mereka NGGAK MAU! Mereka nggak mau ribet, nggak mau bangun pagi, nggak mau mondar-mandir, nggak mau nyuci piring!”

Papa diam aja. Dia tahu percuma ngelawan gw yang lagi emosi, dan gw yakin dia setuju sama omongan gw.

DASAR LELAKI PEMALAS!!!!!!!!! Memang sih pengajian ini dibiayain sama abang gw. Eh ralat, dibiayain oleh abang gw atas permintaan istrinya sebagai kado buat gw. Makasih buat kadonya. Ini membantu, tapi yang gw butuhkan saat ini tuh kehadiran dan niat!

Si Punk Rock menenangkan emosi gw. Dia bilang, jangan marah begitu. Gimana pun juga mereka keluarga gw.

Jutsru karena mereka itu keluarga! Kok mereka begitu banget sih sama gw??? Tapi gw kemudian tenang, namun gw nggak akan lupa sama kemalasan bergerak mereka. Gw malas ngomong sama mereka!

 

Hari berlalu sampai hari Senin pun tiba.

Si Punk Rock ajak gw ngomong. “Sayang, nanti untuk bayar fotografer boleh nggak pakai uang kamu dulu?”

“Boleh dong!”

“Iya, soalnya uang aku udah untuk ini, itu, bayar ini, bayar itu. Maaf ya… Sebenarnya kau masih ada duit, sih. Tapi kita mau ke Bali setelah nikah. Takutnya nggak cukup duitnya.”

“Ya nggak apa-apa, tauk. Berapa bayar fotografernya?”

“Sekian.”

He? Waduh, cukup nggak ya duit gw? Bisa sih pakai duit yang ini. Tapi artinya nanti gw harus cover yang itu dengan bayar segini. Dan kemudian gw harus ngurangin yang itu buat bayar yang ini. Aduuuh ribet! Cukup nggak ya? Euuh… bismillah aja, deh. Insya Allah ada jalan.

Hoo iya! Si Agam kan masih ada utang sama gw. Tagih ah. Lumayan untuk nambah duit fotografer. Gw Whatsapplah si Agam…

“Gam, kakak butuh duit buat bayar fotografer. Kakak mau nagih utang. Kabarin ya kalau udah transfer.”

“Lah, fotografer kan jadinya pake Hanum (pacarnya Agam yang jago motret)”

“Hanum buat motret candid. Buat motret formal harus bayar. Kabarin kalau udah transfer.”

“Iya, Agam lagi pelosok. Kalau nanti udah ketemu ATM, Agam transfer.”

Dalam hati gw—> Nggak nanya. Lo mau di mana kek, gw udah nggak peduli.

 

Keesokan harinya si Agam Whatsapp…

“Utang Agam berapa sih? Bisa dirinci, Agam lupa.”

Hadeeeeeeeehhhh! Nyusahin! Sebenarnya nggak nyusahin-nyusahin amat sih. Tapi karena gw udah keburu bete aja ama ni makhluk, gw jadi sebel dengan segala sesuatunya dari dia. “Sekian yang waktu itu transfer si Badru, sekian buat rafting. Kabarin kalau udah transfer.”

“Kan waktu itu Agam juga utang sekian buat beli sepatu, berarti sekian.”

Eh, iya ya. Gw malah udah lupa dia utang buat beli sepatu itu. Gw balas singkat, “Haa, itu juga.”

Nggak berapa lama dia Whatsappin foto bukti transfer.

“Itu udah Agam transfer. Agam tambahin buat kakak naik banana boat di Bali,” tulisnya.

Jumlah yang Agam transfer itu nominalnya sama persis dengan honor fotografer. Alhamdulillaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!

Ini kali ya yang dinamakan rezeki orang mau nikah. Gw udah sering dengar sih, kalau lo mau nikah, karena niatannya baik, maka pasti rezeki lo dilancarin. Selalu adaaaaa aja jalannya. Jadi ini tokh yang mereka maksud?

Gw langsung ngabarin ke Si Punk Rock, “Horeeeee! Duit buat fotografer udah ke-cover. Agam baru bayar utang, dan sengaja dilebihin sama dia. Katanya buat naik banana boat di Bali, hahaha…”

“Tuh kan, Agam baik. Makanya kamu jangan kesel-kesel sama Agam ya,” kata Si Punk Rock.

Makasih banyak Agam ^___^

Agam dan gw
Agam dan gw

 

Iklan

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s