Konser Incubus 26 Juli 2011

(Repost dari blog yang lama: 9 Agustus 2011)

(Tulisan gw yang ini bikin orang Promosi kantor gw di-complain sama kliennya. Tapi mau gimana dong. Gw kan hanya nulis fakta. Peace!) 

Minim Penonton, Maksimal Aksi

Ada mitos yang berkembang bahwa penonton konser Indonesia itu hanya antusias pada saat konser pertama. Jika si musisi luar negeri itu datang untuk kedua kalinya, pasti respon yang didapat tidak sebesar yang pertama.

Melihat konser Incubus Selasa (26/07) kemarin, dengan berat hati kita harus mengakui bahwa itu bukan sekedar mitos belaka. Karena memang di konser kedua kalinya setelah tahun 2008 lalu ini sepi oleh penonton.

Area festival Istora Senayan yang didaulat menjadi venue hanya terisi setengah, tribun tengah terisi tiga per empat, dan tribun sayap kiri-kanan hanya diduduki sedikit di sana-sini.

Padahal band yang terdiri dari Brandon Boyd (vokal), Mike Einziger (gitar), Jose Pasillas (drum), DJ Chris Kilmore (keyboard dan turntable) dan Ben Kenney (bass) ini memenuhi janjinya untuk membawakan konser yang seru kepada penonton Indonesia. Hal itu mereka sampaikan pada konferensi pers yang diadakan sehari sebelumnya di hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan. Band asal California, Amerika Serikat ini mengatakan bahwa alasan utama mereka datang kembali ke Indonesia adalah karena antusiasme fansnya yang sangat besar. “Pada konser yang sebelumnya, semua orang bernyanyi bersama begitu kencang sampai kami tidak bisa mendengar suara musik kami sendiri,” ujar Mike.                                                 

Sayangnya di konsernya kali ini tidak ada begitu banyak penonton untuk diajak bernyanyi bersama. Tapi itu tidak membuat Brandon CS berkecil hati dan memberikan aksi yang asal-asalan. Mereka memenuhi janjinya untuk tampil maksimal. Dari cara Brandon bergoyang, terlihat sekali kalau ia menikmati panggung dan penontonnya yang sebagian besar adalah Incunesia, yaitu fan base Incubus di Indonesia.

Meski yang terlihat paling menikmati panggung itu adalah Brandon, tapi anggota Incubus lainnya juga terlihat senang bisa bermain kembali di Indonesia. Mereka saling melempar senyum dan bersalaman setiap mengakhiri lagu.

Penonton yang tidak banyak itu juga sepertinya juga sangat menikmati semua lagu yang disuguhkan. Lihat saja aksi penonton saat lagu Megalomaniac dijadikan sebagai lagu pembuka. Penonton langsung berjingkrak bersama mengikuti hentakan kencang dari lagu tersebut. Kemudian diikuti oleh lagu Wish You Were Here yang membuat penonton bernyanyibersama.

Kita harus berterima kasih pada lighting yang ciamik. Karena panggung yang kosong dan tanpa multimedia artwork itu jadi ‘ramai’ berkat sorotan lampu yang berwarna-warni. Sang lighting juga berjasa untuk menularkan semangat kepada penonton. Soalnya sistem tata cahaya ini sudah diset sedemikian rupa untuk mengikuti hentakan dan mendramatisir tiap lagu.

Meskipun kedatangan Incubus kali ini sebagai rangkaian tur promo album baru mereka yang berjudul If Not Now, When?, namun band yang sudah bermusik selama 20 tahun ini tetap memanjakan penonton dengan membawakan banyak lagu-lagu lama. Seperti Consequence, Anna Molly, Pardon Memenjadi lagu yang berada di urutan awal untuk dibawakan. Sedangkan lagu-lagu di album ketujuhnya sendiri menyusul belakangan. Tidak lupa mereka membawakan lagu Adolecents dan Promises, Promises sebagai hit single dari album terbarunya.

“You guys having a good time tonight?” tanya Brandon dari atas panggung. Serentak satu Istora Senayan menjawab “Yeaaaah!” Mendengar jawaban yang penuh semangat, Brandon berlutut dan mengepalkan tangannya sebagai bentuk ucapan syukurnya. “Thank you for coming back,” ucapnya lagi. Terima kasih Incubus karena telah menyuguhkan konser yang keren!

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Gw ingat betapa gw jatuh cinta sama Brandon Boyd yang bernyanyi di atas panggung.

Brandon Boyd
Brandon Boyd

-Gw juga ingat betapa band ini memang keren. Gw senang dan merasa beruntung bisa liputan konser yang satu ini.

-Satu lagi yang bikin konser ini tidak terlupakan, yaitu setelah berita konser ini terbit, orang Promosi kantor gw saat itu berkeluh kesah kalau tulisan gw bikin mereka dikomplen sama pihak promotor konser. Soalnya tulisan gw negatif dengan memaparkan betapa sedikitnya penonton  yang datang kala itu padahal media gw adalah media partner. Itulah salah satu nggak enaknya kerja di media di Indonesia. Kami, orang redaksi, masih harus berkompromi sama urusan kayak beginian. Tapi gw sampai sekarang nggak nyesel nulis yang memang apa adanya. Maaf kalau gw bikin repot anak Promosi gw saat itu, tapi memang begitulah seharusnya jurnalis bekerja 🙂

 

Iklan

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s