Segepok Surat Cinta Buat Agam

(Repost dari blog yang lama: 22 Agustus 2010)

Sejak gw ngekos di Jakarta, gw selalu mengusahakan untuk pulang setiap Jumat malam ke rumah gw di Bekasi. Dan itu jugalah yang terjadi pada Jumat lalu. Ritual gw saat sampe rumah adalah duduk bentar, yang kemudian akan memakan waktu minimal dua jam. Terus nonton tivi buat nunggu mood mandi, yang kemudian membuat gw berpikir ‘harus ya gw mandi udah malam begini juga?’.

Hari Jumat itu, di saat gw melakukan semua ritual tersebut, Agam pulang. Agam memang pulangnya malam. Karena kegiatan futsalnya banyak banget. Tuntutan dia untuk main futsal di berbagai tempat sama kaya tuntutan pemain sinetron stripping untuk terus nangis biar ratingnya tetap tinggi.

Begitu Agam masuk pintu rumah dan melihat kakak tercintanya lagi nongkrong di meja makan dengan penuh keanggunan, ia pun berkata…

“Kak, mau ketawa-ketawa nggak?”

Gw mengangguk tanda mau.

Agam pun masuk ke kamarnya untuk menaruh tas dan melepaskan semua perlengkapan naik motornya. Tak lama dia muncul lagi dengan segepok surat di tangannya.

“Ini surat cinta buat Agam.”

“Dari mana???”, tanya gw dengan kaget.

“Dari anak-anak KMP.”

Sekilas Info:
KMP itu singkatan dari Kuliah Minggu Pertama. Sebutan itu hanya ada di kampus gw yang juga menjadi kampus Agam, yaitu IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Jakarta. Mungkin di beberapa kampus, KMP itu sama dengan OSPEK. Tapi bedanya, di KMP itu sama sekali nggak ada bully, dikerjain, atau teriakan dari senior. KMP itu hanya diisi oleh pengenalan isi dan sistem kerja kampus. Diselingi oleh pertunjukkan atraksi dari UKM-UKM yang ada.
Mungkin kedengerannya nggak seru, tapi kalau tujuan OSPEK itu untuk mencari teman, kebersamaan dalam satu angkatan, dan nggak canggung lagi saat memulai kuliah beneran, maka sistem yang diterapkan KMP sangat efektif. Terbukti kampus gw aman-aman aja tuh dari anak rese. Padahal nggak ada bully sama sekali dari senior. Malah senior sangat terbuka dengan anak-anak mahasiswa baru.

Nah, kembali ke Agam. Untuk penerimaan mahasiswa angkatan 2010 ini, Agam diminta untuk jadi mentor. Mentor adalah senior yang mengawasi anak-anak mahasiswa baru dari tiap kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 20-30 mahasiswa baru. Tugas jadi mentor itu nggak berat-berat amat sih. Sangat gampang malah. Cuma mengawasi supaya nggak berisik, tetap menyimak semua penjelasan yang disuguhkan, mengabsen kehadiran mereka, mengantar mereka keliling kampus dan mejelaskan fungsi-fungsi tempat tersebut.
Kok gw bisa tahu banget tugas mentor KMP? Karena dulu pun gw pernah jadi mentor KMP.

Seiring berjalannya waktu, peraturan KMP banyak berubah. Saat gw jadi mentor KMP 2005, keterlibatan gw di situ karena gw adalah utusan dari UKM Paduan Suara. Dan kami mengerahkan tenaga serta waktu kami secara suka rela. Sedangkan di angkatan Agam jadi mentor, siapa pun boleh terlibat jadi panitia KMP. Dan mereka dibayar! Agam pernah cerita sih kalau dia malas banget pas diajak untuk jadi mentor KMP. Tapi iming-imingi Rp35 ribu per hari membuat Agam tergiur. ‘Yaaah lumayanlah buat bayar patungan lapangan futsal’, mungkin itu yang ada di pikiran Agam saat itu. Dasar Agam gibol! Alias gila bola.

Nah, kembali ke soal surat cinta Agam. Gw bertanya lagi….
“Ini surat cinta dari mana?”

“Dari anak-anak KMP.”

“Mereka disuruh untuk bikin surat cinta begini?”

“Iya.”

“Kok boleh? Pas jaman Kakak jadi mentor, nggak dibolehin nih ngerjain anak-anak KMP kayak gini.”

“Nggak tahu, tuh. Lagian ini kan cuma buat lucu-lucuan doang….”

Lalu kami pun membuka surat-surat itu satu-persatu. Ternyata surat-surat itu semuanya dilengkapi oleh foto dan cap bibir. Najeeeeeeeeeees!

“Ini memang disuruh pake cap bibir sama foto, Gam?” tanya gw.

“Iya.”

“Kalau yang anak cowok yang kirim surat buat senior cewek juga harus pake cap bibir?”

“Iya.”
Oke, kalau nanti di kampus gw tiba-tiba jadi banyak cowok yang ‘coming out’ dan menyatakan dirinya gay, itu semua pasti berawal dari pengalaman pertamanya pakai lipstik saat KMP.

Satu-persatu surat itu kami baca. Banyak banget kata-kata gombal yang gw temui. Seperti…

I like the way you look at me…
Reaksi gw: “Agam suka ngeliatin anak ini ya? Kakak bilangin Hanum ya!” ancam gw.
Agam: “Nggak! Yang ada anak itu yg ngeliatin Agam terus.”

Kak Agam itu diam dan misterius banget. Aku pengin mengenal kakak lebih jauh.
Reaksi gw: “Agam kok kayak tukang copet sih?”
Agam: “Tukang copet gimana?”
Gw: “Lah ini semuanya bilang Agam itu diam dan misterius. Itu kan deskripsi tukang copet. Mana ada tukang copet yang berisik, ya kan?”
Agam: *memberi gw pandangan ‘plis deh kak’*

Agam andaikan kamu menjadi bintang, aku mau jadi bulannya.
Reaksi gw: “Dih! Kalau Agam jadi panu, dia mau juga jadi kalpanaxnya?”
Agam: *terus membaca surat-surat karena malas mendengarkan ocehan gw*

Betapa sesaknya dada ini, menghirup udara dingin tanpamu.
Reaksi gw: “Agam bikin anak orang jadi bengek ya?”
Agam: *tetap diam dan baca surat. Adik durhaka. Huh!*

Ada juga surat-surat yang unik. Dan bikin gw ngakak tentunya. Seperti…
-Ada yang mengawalinya dengan tulisan ‘bismilah’ dengan bahasa Arab.
Ketahuan banget kalau anak ini lulusan Tsanawiyah.

-Ada yang nulis sangat singkat. ‘Gue suka sama lo. Wasalam’
Anak ini memang tepat banget masuk ISIIP Jakarta yang konon pencetak jurnalis di Indonesia. Soalnya surat cinta yang dia kirim ke Agam udah benar menurut kode etik jurnalistik yang ada. Singkat, padat, dan tepat sasaran.

-Ada juga yang malah kirim surat pakai analogi ilmu pengetahuan alam. Gw lupa sih kayak gimana kata-katanya, cuma ada soal chemistry, magnet diantara kita, gravitasi, kutipan Einstein, macam-macamlah.
Surat cinta yg keren sih. Cuma dia sadar nggak sih kalau IISIP itu sama sekali nggak ada jurusan tekniknya? Jadi salah banget nih orang ngomong pake bahasa IPA ke anak IPS kayak Agam.

-Ada juga yang menulis suratnya dengan hurup gede kecil khas alay. Omaygaaaaaat! Tulisan tangan beneran, lho! Pantesan alay-alay itu pada langsing. Karena mereka tidak pernah capek untuk berolahraga. Terutama olahraga tangan yang disalurkan melalui menulis dengan huruf besar dan kecil tanpa henti.

Setelah membaca semua surat yang berjumlah sekitar 50 pucuk itu, Agam pun mulai pamer…

“Agam senior yang paling banyak dapat surat cinta, lho.”

“Kok bisa? Agam nyogok mereka ya? Kakak laporin KPK ya!”

“Nggak! Agam juga nggak tahu kenapa. O iya, Agam juga dapat predikat ‘Kakak Terganteng’, lho.”

Hening sejenak. Lalu meledaklah tawa kami bersama.

“Kok bisa Agam dapat ‘Kakak Terganteng?’ Emang yang lain nggak ada yang ganteng apa?”

“Ada sih. Tapi dia memang bego. Planga-plongo gitu. Tapi Agam juga tetap heran. Dapat surat segini banyak aja Agam nggak nyangka.”

“Agam tebar pesona kaliii…. Makanya banyak anak baru yang begitu sama Agam,” pancing gw.

“Yaelah kak… Orang Agam jadi mentor aja males-malesan. Pas disuruh giring anak-anak baru keliling kampus untuk kasih tahu denah kampus aja, Agam minta tolong sama Budi. Budi tuh yang malah jalan di depan dan kasih petunjuk jalan. Agam mah jalan di belakang anak-anak aja. Sampai Agam diketawain sama mentor-mentor lain karena Budilah yang semangat kasih tunjuk jalan.”

“Budi? Si Budi Kampus yang gagu?”

“Iya. Mas-mas gagu yang suka nongkrong di kampus itu.”

“Kok Budinya mau?”

“Jiaaaaaaaaaaah Budi kan selalu semangat kalau diajak apa pun sama anak-anak kampus. Karena dia udah bantuin Agam, dia Agam kasih tip 10ribu. Tapi Agam ancam tuh duit nggak boleh dipake buat beli rokok. Dia girang banget. Sekarang kalau dia ngeliat Agam, dia ngintil mulu!”

“Huahahahahahaha……”

Sedikit demi sedikit gw jadi ngerti sih kenapa adik gw dapat begitu banyak surat cinta dan dapat predikat ‘Kakak Terganteng’. Adik gw tampangnya memang nggak jelek. Tapi dia nggak segitu gantengnya juga, sih. Namun letak daya tarik adik itu justru dari kecuekannya. Di saat (mungkin) mentor-mentor lain pada tebar pesona dan ngincer anak-anak baru, Agam malah cuek. Di saat mentor-mentor yang lain (mungkin) terlalu semangat memberi kebaikan biar dapat predikat ‘Kakak Ter-‘, Agam malah nggak peduli sama hal kayak begituan.
Yang gw tahu pasti sih, Agam hanya semangat kalau Hanum yang tak lain adalah pacarnya, hadir di KMP. Saat itu Hanum mewakili UKM Paduan Suara. Hal itu gw ketahui dari semangatnya Agam menceritakan tentang tingkah gila pacarnya yang super tomboi itu saat jadi MC untuk memperkenalkan UKM tersebut.

Belum selesai ketawa gw saat membaca surat-surat gombal itu, Agam bilang sesuatu yang bikin gw tambah ngakak…

“Tahu nggak kak, pas pembubaran panitia kita tuh disalamin satu-satu sama rektor. Pas ibu rektor salaman sama Agam, dia bilang begini ‘Eh kamu yang jadi Kakak Terganteng kan?’ “

“Huahahahahahhahahahahahahahahahaha…….. Iya itu sebuah prestasi tuh, Gam! Kalau rektor kampus sampai memberikan selamat atas paras Agam, artinya kegantengan Agam terakreditasi! Huahahahahahahahaha…. Eh ngomong-ngomong Agam udah terima IP belum?”

“Udah.”

“Berapa IP Agam semester ini? Coba sini Kakak lihat.”

“IPnya 2.80.”

“Yang kemarin berapa?”

“2.90”

“Kok turun???? Pasti kebanyakan main futsal kan!”

“Nggak! Dosennya tuh yang salah! Masa kuliah Pendapat Umum Agam dapat D! Padahal Agam yakin tuh jawaban Agam bener! Teman-teman Agam yang lain malah dapat E! Padahal absennya cukup!”

Lalu perdebatan tentang ‘makanya belajar yang benar’ dan pembelaan ‘bukan salah Agam,dosennya aja yang rese’ pun dimulai……
Malas gw ceritain bagian itu. Soalnya nggak seru.

NB: Kalau kalian banyak yang penasaran dengan tampang Agam, berikut gw berikan beberapa fotonya.

Ini foto dia waktu rambutnya masih gondrong sih. Sekarang rambutnya udah pendek kayak Parto. Yang di sampingnya itu Hanum, pacarnya Agam. Kelakuannya memang agak somplak. Tapi cewek ini sangat multitalenta. Keren banget deh cewek ini.
Ini foto Agam waktu sidang skripsi. Rambutnya udah pendek.
Ini foto Agam waktu sidang skripsi. Rambutnya udah pendek.

 

Ini Agam waktu gw rayain ulang tahunnya tahun lalu. Emang kita mirip ya? Masa sih?
Ini Agam waktu gw rayain ulang tahunnya tahun lalu. Emang kita mirip ya? Masa sih?

 

Akreditasi Foto: Nyolong dari Facebook Agam

Iklan

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s