Review: Laskar Pelangi

(Repost dari blog yang lama: 24 September 2008)

 

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 4 out 5

Seperti yg semua orang ketahui film ini diangkat dari novel yang berjudul sama. Dan gw ga akan memberikan sinopsisnya di sini. Karena kayanya hampir semua orang udah tahu jalan ceritanya. Jadi kali ini gw hanya akan membeberkan apa yg gw suka dan ga gw suka dari film ini..

 

Yang gw suka dari film ini:

– Sinematografinya bagus. Apalagi pas di pantainya, subhanallah…

– Ada satu adegan yg katanya pas preview untuk pers, hampir satu studio jadi nangis. Gw juga hampir sih, cuman karena udah dibilangin ada adegan yg bikin nangis, air mata gw hanya bisa sampai tahap tergenang. Yg bikin hebat, adegan itu hanya terdiri dari gambar close up muka dan narasi. Tapi berhasil bikin kita ngerasa pedih.

– Banyak mengambil sisi polosnya anak kecil yg bikin kita ketawa (which is sekarang gw jarang banget ngeliat nak kecil bertingkah laku sesuai umurnya).

-Filmnya Indonesia banget.

-Cut Mini dan Ikranagara keren!

 

Yg gw ga suka dari film ini:

– Kalo lo ga baca bukunya, kita bakal agak bingung. Ini agak mengherankan, karena Andrea Hirata sang novelis udh memberi kuasa penuh kepada Mira Lesmana dan Riri Riza dalam penggarapan versi filmnya. Dia bahkan ga terlibat dalam penulisan naskah. Jadi klo alurnya dibuat beda agar kita bisa lebih mengerti jalan cerita (untuk yg ga baca bukunya), seharusnya sah-sah aja. Wong Andreanya aja ampe bilang “Kalau buku dan film sama aja, buat apa dibuat filmnya.”

– Penokohan anak-anak Laskar Pelangi yg di buku dijelaskan secara kuat masing-masing pribadinya, tapi di film malah kita hanya mengenal dengan baik sekitar 5 orang. Sisanya kita hanya akan menebak-nebak, “Ooh, mungkin anak yg lumayan manis ini adalah si Trapani.” Eh tunggu…. kayanya ga sampai semua nama anak pernah disebut di film itu deh.

– Jadulnya ga dapet. Settingnya sih tahun 1970-an. Tapi gw ga bisa melihat itu. Mungkin karena semua jalan udah beraspal, peralatan marching band yang lengkap, dan sepatu sneakers pertama si Ikal yg dipakainya utk sekolah sama sekali bukan model tahun 1970-an. Jadi pas gw nonton tuh film, gw jadi lupa klo itu adalah tahun 1970-an. Yg gw lihat adalah tahun 2000-an di daerah yg belum maju.

– Akting anak-anaknya masih kaku. Tapi wajar sih, secara meerka emang anak-anak Belitong asli yg di-casting di tempat.

– Figurannya juga kaku. Karena memang menggunakan warga setempat juga kali ya…

– Filmnya ga universal. Biasanya klo Riri dan Mira memproduksi sebuah film, gw selalu berekspektasi film tersebut akan bisa utk festival. Cuma utk film yg satu ini, gw agak meragukan. Karena, ya itu, orang harus baca bukunya dulu baru ngerti nih film.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Kesuksesan Laskar Pelangi bukan hanya dibuat filmnya doang, tapi juga teaternya. Dan sudah terbit buku Laskar Pelangi versi bahasa Inggris.

-Film Laskar Pelangi ini bisa dibilang pelopor film Indonesia yang mencerminkan kepedihan anak bangsa di tengah cantiknya alam Indonesia untuk era ini.

Iklan

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s